Pernikahan Beda Agama

Welcome Home!

*Prakata : Menulis adalah sebuah kebutuhan. Ia layaknya makanan bagi perut, layaknya sentuhan lembut bagi kulit. Menulis menjadi salah satu cara seseorang mengungkapkan dan melepaskan beban yang ada dalam kepalanya.

Seseorang bisa saja pandai berbicara, namun ia tak mampu menuliskannya dalam kata-kata. Sebaliknya juga, seseorang bisa saja menjadi pujangga kelas wahid di atas kertas, namun justru tak mampu berkata-kata ketika ada di atas mimbar.

Yah, memenuhi kebutuhan itu, akhirnya halaman sederhana ini akan menjadi sebuah tempat curahan hati. Hahai.

***

Mengawali posting pertama di blog ini, saya ingin berbagi tentang beberapa kisah cinta yang beberapa hari terakhir ini sedang hangat di sekitarku. Sebuah kisah cinta yang seperti biasanya : Sungguh Luar Biasa. 🙂

Salah seorang sepupu, menikah dengan pria berlainan keyakinan. Ia adalah anak kiyai dekat rumah. Pernah sekolah di pesantren hingga tamat aliyah dan melanjutkannya ke sebuah perguruan tinggi Islam di Sulawesi.

Sungguh, mungkin cinta memang buta. Tapi menurut saya, sebuta-butanya cinta, ia mesti tetap harus dapat memilih. Hingga hari ini, di kalangan keluarga kami percakapan tentang pernikahan anak Kiyai dengan seorang Nasrani itu masih menjadi perbincangan. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya anggota keluarga besar, yang dalam keseharian dikenal sebagai keluarga islami, ternyata menikah dengan orang yang di luar bayangan.

Cinta. Membuat gadis kelahiran ’90 itu memilih menikahi seorang duda beranak dua yang usianya terpaut 15 tahun lebih tua darinya. Ditambah lagi satu pasal utama, agama yang berbeda.

Saya tak tau bagaimana kekuatan cinta itu, namun sepertinya pernikahan adalah jalan terbaik yang dipilih oleh Pak Kiyai. Mungkin ia ingin menghindari fitnah lebih besar, jika membiarkan anaknya dalam situasi cinta yang tak halal. Akhirnya, pria Nasrani itu beralih agama ke Islam beberapa hari sebelum pernikahan, demi cinta.

Baca Juga :  Fokus & Konsistensi = Berat!

Hmmm … Saya tak yakin. Beberapa kisah cinta sebelumnya tentang orang yang beralih agama hanya karena cinta akan membuatnya kembali ke agama semula jika cintanya kandas. Yang menakutkan lagi adalah bayang-bayang semu *aiyyah … Sang pria mengajak sepupu masuk agamanya. Hadeh.

Four Year Itch. Cinta itu hanya bertahan dalam romantismenya dalam 4 tahun saja. Setelah itu butuh persahabatan untuk membiarkannya langgeng hingga akhir.

Jadi jika ingin memilih cinta, pilihlah yang dapat menenangkanmu dan keluarga. Salah satu syarat utamanya, ia seiman. Bagaimana mungkin seseorang akan menjadi imam-mu jika ia sendiri tak tau agamamu?

Mengakhiri ini, sebuah joke tentang anak kiyai yang masuk kristen.

Seorang kiai datang mengeluh kepada Gus Dur karena satu di antara empat anaknya masuk Kristen. Sang kiai sambat. Dengan enteng, Gus Dur menjawab, “Sampeyan jangan mengeluh kepada Tuhan. Nanti Tuhan akan bilang, saya saja punya anak satu-satunya masuk Kristen!” :mrgreen:

Saya, Abied, dari sebuah tempat paling indah di dunia. Salam … 😉

Share artikel ini...
MasBied.com

About MasBied.com

Lovely Father. Romantic Husband. Teacher. Motivator. Influencer. Terima kasih telah berkunjung di blog sederhana ini. Semoga bermanfaat. Salam hangat, dari tempat paling indah di dunia ... ^_^