Sakaratul Maut

Saya dulu takut menyaksikan jenazah. Bahkan jenazah itu adalah om saya sekalipun. :D

Saat pakde saya meninggal, beliau dibawa pulang dari rumah sakit sekitar jam 10 malam.

Setelah melihat jenazah beliau, dan pulang ke rumah untuk tidur, saya tak bisa tidur sendiri, sampai-sampai ikut tidur di kamar kakak saya yang punya bayi kecil. Haha …

Seperti yang saya tulis dalam artikel “Pria Penakut” ini, saya mengalami banyak sekali ketakutan dalam hubungannya dengan makhluk yang tak terlihat oleh mata kasat. Termasuk dengan jenazah yang belum dikebumikan. Hmmm..

Tapi lain cerita pada kisah yang saya tulis kali ini.

Kisah ini melibatkan guru mengaji saya.

Namanya Pak Sam. Orang biasa memanggilnya Pak Nasruddin, karena nama lengkapnya adalah Pak Samidi Nasruddin.

Sejak SMP, beliau adalah guru mengaji saya di Masjid Miftahul Jannah Patoloan. Selepas magrib, hingga adzan isya, beliau mengajari kami mengaji Qur’an, fiqh, atau kajian beberapa kitab kuning.

Di mata saya, beliau ada guru yang sederhana, lembut, santun. Dekat dengan beliau merasa adem.

Sejak 2012-an, sepeninggal Bapak Kiai Ahmad Shodiq selaku imam desa kami, Pak Sam ini didapuh sebagai imam baru. Yang meskipun setahu saya, meskipun beliau adalah imam desa yang menikahkan pasangan sejoli yang dimabuk cinta, atau menjadi penceramah di banyak kegiatan, tapi beliau seringkali ‘mangkir’ saat diminta menjadi imam sholat di masjid. Beliau jarang sekali mau menjadi imam, kecuali memang tidak ada orang yang terbiasa mengimami.

Padahal, saya suka bacaan shalat beliau. Saya hafal betul lagu Al-Fatihahnya. Lembut, kecepatannya pas, dan yang paling saya suka adalah beliau selalu membaca surah-surah ekstra pendek, yang membuat shalat menjadi makin menyenangkan. :D

Baca Juga :  Dell Mini PC

Alkisah, Pak Sam mengalami sakit. Di tahun 2016 (atau 2017?) beliau mengalami sakit parah, hingga tidak bisa turun dari tempat tidur selama kurang lebih 2 minggu. Saya tak paham penyakitnya apa, sempat sekali menjenguk, dan alhamdulillah-nya beliau sempat sehat lagi.

Lantas, di 2017, beliau kembali sakit. Kali ini lebih parah.

Kakinya bengkak. Sepertinya ginjal, atau komplikasi. Denger-denger disarankan untuk cuci darah.

Beliau diobati di Makassar, beberapa hari di sana, tapi akhirnya meminta pulang.

Beberapa hari setelah sampai di rumah inilah beliau menghembuskan nafas terakhir.

Nah, di sinilah kisah saya bersama beliau dalam hubungannya dengan lelaki penakut. :)

Saya, yang sebelumnya begitu takut melihat orang yang sakaratul maut, harus menemani beliau di masa kritis itu.

Pagi itu hari Rabu. Saya menjenguk beliau, setelah tau bahwa beliau tiba dari Makassar sehari sebelumnya.

Saya ditemani sepupu, yang bekerja di kantor Pengadilan Agama, meskipun kami berdua tidak bersamaan datang. Saya tiba sekira pukul 07.15-an. Sepupu menyusul beberapa menit kemudian.

Pak Sam, yang dalam catatan saya meninggal sekitar pukul 08.00 ini, masih memiliki kesadaran sangat baik saat saya tiba.

Beliau sempat bertanya ke saya, “Gak sekolah to Mas?”.

“Sekolah Pak, tapi nanti jam 10-an”

Kebetulan memang jadwal saya hari itu setelah jam istirahat, di sekitar pukul 10 itu.

Beberapa menit setelah itu, Pak Sam yang sudah lama menjadi imam desa ini membaca ayat-ayat Qur’an. Membaca Al-Fatihah, membaca awal surah Al-Baqoroh, memimpin tahlil, membaca doa.

Berulang kali. Tak berhenti jika tak diajak cerita.

Saya hanya menyaksikan apa yang beliau lakukan, sambil sesekali ikut meng-aamiin-kan doa yang beliau ucapkan. Dalam pengamatan saya, sepertinya beliau merasa memimpin doa bersama dengan banyak jamaah di hadapannya.

Baca Juga :  Bicara Politik?! No...

Beliau beberapa kali mengucapkan : “Mari kita sama-sama mendoakan orang ini … blablabla” dilanjutkan dengan bacaan-bacaan ayat Qur’an dan doa tadi.

Memulai lagi dengan mengucapkan salam, layaknya orang yang sedang melakukan doa bersama.

*** Skip ***

Kisah sakaratul maut itu terjadi di depan mata saya.

Pak Sam yang sejak saya datang, hingga beberapa menit kemudian membaca ayat Quran dan doa-doa tak henti itu, menghembuskan nafas terakhirnya di depan mata saya.

Dalam keadaan yang damai.

Sungguh, jauh dari bayangan saya tentang masa sakaratul maut yang menyakitkan.

Saya yakin ini karena beliau semasa hidupnya memenuhi hari-harinya dengan hal-hal serupa.

*** Skip ***

Sakaratul maut inilah yang membuat hingga saat ini saya selalu mengingat beliau.

Jika biasanya saya merasa takut dalam hubungannya dengan jenazah (secara fisik), rasa itu berbeda dengan beliau. Saya justru merasa nyaman.

Saya merasa diberi kesempatan untuk menyaksikan salah satu hal indah tentang ini. Merasa bahwa Allah sedang membuatnya menunggu saya datang untuk bisa melihat sebuah ‘hal luar biasa’.

Ada hal baik yang tersimpan di benak saya tentang kepergian Pak Sam ini.

Apalagi sejak meninggalnya beliau, saya menggantikan jadwal beliau sebagai khatib. :D

***

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau, menerima segala amal baiknya dan menempatkannya di surga. Aamiiin..

MasBied.com

About MasBied.com

Just Another Personal Blog

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u6354800/public_html/masbied.com/wp-content/plugins/detheme_builder/detheme_builder.php(58) : runtime-created function on line 1