I Dare To Be Grey …

Uban.

Salah satu masalah penuaan dini yang muncul dalam garis keluarga kami adalah uban. Sejak selesai kuliah pada Juni 2014, nilai pertambahan uban yang tumbuh di kepala saya mengikuti grafik eksponen. Naik dari 1, 4, 9, 16, 25, 36, dan seterusnya hingga tak berhingga. Haha ..

Awalnya masih 1, 2, 3, dan 4. Masih bisa dicabut dikala sempat. Tapi lama kelamaan kok makin banyak, kalau dicabut rasa sakitnya malah bikin berontak. 😀

Kalau bertemu dengan teman yang lama tak berjumpa, mereka akan mengatakan bahwa saya ‘tua sekali’. Yaelah.

Ya saya menanggapinya dengan santai saja. Mungkin kenyataannya memang begitu.

Toh, saya memang pria menjelang usia 35 tahun yang sudah punya 2 anak. Sudah wajar disebut tua.

Di sekolah pun, sejak umur 23 saya sudah terbiasa dipanggil ‘Pak..’. Di lingkungan keluarga juga sudah dipanggil ‘Mbah’, karena beberapa keponakan memang sudah punya keturunan, yang secara otomatis dalam tradisi Jawa, saya dipanggil dengan istilah ‘Mbah Muda’. Asek.

Menua itu kepastian Bro.. Tapi menjadi dewasa itu pilihan. :mrgreen:

Jadi ketika ada beberapa orang yang shock melihat jumlah uban saya yang lebih dari normal, saya lantas mengatakan kepada mereka, bahwa uban itu terdiri dari beberapa penyebab utama.

Yang pertama adalah gen. Sebagai pewaris para pendahulu, gen rambut putih ini bisa jadi memang diturunkan oleh kakek nenek atau bapak ibu saya. Dan ini sudah saya amati sejak beberapa tahun belakangan. Saya mendapati banyak sekali sepupu dari garis ibu yang memang mengalami hal serupa seperti yang saya rasakan : masih muda tapi sudah mulai beralih dari dunia hitam. Alhamdulillah.

Bapak sendiri pun demikian adanya. Rambutnya sudah ‘putih tih’. Padahal saya tau banyak teman seangkatan bapak yang rambutnya masih separuh hitam.

Baca Juga :  Fokus & Konsistensi = Berat!

Dengan yakin akhirnya saya katakan pada mereka-mereka yang kaget dengan rambut putih saya bahwa ini adalah takdir Tuhan, warisan keluarga, yang tak boleh ditolak, harus diteruskan karena sudah menjadi tradisi. Berdosa kalau membuat hal baru dalam keluarga. 😀

Alasan yang kedua adalah nutrisi rambut. Ini berhubungan dengan pemakaian minyak rambut dan shampoo yang bisa jadi tidak sesuai dengan jenis kulit kepala. Memang, sejak SMP saya sudah masuk dalam kategori pemakai fanatik minyak rambut Tancho (kalau sekarang mungkin lebih nge-tren Pomade ya ..). Setiap pagi selama sekolah, saya pasti memakai minyak rambut. Pulang pergi sekolah memakai topi. Mungkin keringat makin banyak, makin gerah, makin berakibat fatal.

Alasan yang ketiga penyebab uban datang cepat adalah stress.

Ya bisa jadi. Kepala panas, cuaca panas, hidup panas. Haha …

Terlepas dari semua penyebab itu, awalnya saya dengan berat hati menerima kenyataan bahwa saya termasuk dalam kategori yang mengalami penuaan dini. Tapi setelah mengamati beberapa kawan sekelas di SMP, ternyata banyak juga yang mengalami hal yang sama. Tak satu dua lho, banyak …

Hal inilah yang akhirnya membuka hati saya untuk dengan lapang dada tampil apa adanya, tampil dengan image dewasa. :mrgreen:

Di awal, saya sempat beberapa kali mencoba treatment untuk memperlambat munculnya masalah rambut ini. Misalnya dengan menggunakan shampoo berbeda, menggunakan pewarna rambut alami, meditasi atau bertanya pada dokter ahli. *Halah..

Tapi setelah berjalan beberapa bulan, saya sadar bahwa penyebab utama rambut memudar ini bukan alasan kedua dan ketiga, tapi alasan yang pertama : GEN.

Jadilah saya menerima semua dengan lapang dada. Saya ikhlas. 😀

Untungnya istri aman-aman saja menerima bahwa suaminya memang golongan orang yang dewasa lebih cepat. Wkwkw …

Baca Juga :  Pria Penakut

Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak memberikan terapi apa-apa terhadap rambut saya.

Saya ini orang Islam. Dalam Islam, pewarna rambut yang diperbolehkan adalah SELAIN warna hitam. Ada unsur kebohongan bila seseorang menyemir rambutnya dengan warna hitam. Itu menipu kan?! 😀

Itu artinya jika saya menyemir rambut untuk tampil lebih muda, saya sudah melakukan pembohongan publik.

Saya membiarkan diri tampil apa adanya.

Bahkan jika nanti menginjak usia 40 tahun, dan uban mulai rata, saya berniat menggunakan semir putih seperti Pak Hatta Rajasa.

Sayang umur 40 tahun kok rasanya masih lama ya?! Padahal pengen segera pakai nih.

Takutnya kalau pakai sekarang, dikiranya malah Ariel Noah.

Lantas ada yang pengen jadi Luna Maya-nya. Wkwkwkwk …

I dare to be grey .. 

What about you?!

Share artikel ini...
MasBied.com

About MasBied.com

Lovely Father. Romantic Husband. Teacher. Motivator. Influencer. Terima kasih telah berkunjung di blog sederhana ini. Semoga bermanfaat. Salam hangat, dari tempat paling indah di dunia ... ^_^